Kamis, 10 April 2008

Geliat Jiwa bangsaku

Geliat jiwa bangsaku, menghempas, menerjang dan berteriak tiada daya.....mencoba untuk keluar dari lingkaran kemunafikan, kemiskinan, ketidakadilan dan
Kita sebagai bangsa yang beradab dan bermoral luhur, seharusnya sudah tidak perlu lagi diingatkan untuk terus berprilaku sesuai dengan jalur yang ada, akan tetapi entah kenapa bangsa kita selalu dan selalu mengulangi kesalahan yang sama dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegaranya……………

Cerita kejayaan masa lalu selalu menjadi bius penenang dalam mengarungi masa kini dan masa depan….salahkah itu, tidak mutlak saya rasa, seandainya cerita kejayaan masa lalu menjadi cabuk untuk lebih jaya lagi dimasa sekarang dan masa depan, itu sangat baik, tetapi jika kejayaan masa lalu malah menjadi bius penenang yang melenakan dan tidak menggerakkan semua indra untuk bergerak, tentu kisah kejayaan masa lalu harus hilang dari buku – buku sejarah bangsa……..

Derita yang terus dialami oleh bangsa ini, akan menjadi semakin akut sehingga lama kelamaan kita akan terbiasa dengan menerima derita ini……(meski dengan terpaksa) bukan malah berusaha mengobatinya. Banyak pemimpin berkampanye “saya membela wong cilik (wong cilik apa wong sekeli?), ach dasar politikus – politikus kacangan, hanya banyak berbicara tanpa bukti, seharusnya mereka sadar diri, jika memang mereka tidak mampu memimpin bangsa ini, kenapa harus mencalonkan diri? Jawab mereka, “saya ingin berbuat sesuatu untuk bangsa ini”, ya, berbuat curang dan korup dan mereka menjawab lagi “sayakan dipilih oleh rakyat”, ya, dipilih oleh rakyat yang kamu bohongin dan kamu kasih duit...

Energi apa yang dibutuhkan oleh bangsa ini untuk dapat merangsek maju kedepan? Semua energi yang ada serasa mati suri, mandek dan mentok serasa semua serba salah apa yang dilakukan bangsa ini……..kutukankah itu? Saya rasa cara logis untuk menjawabnya dengan tidak mempercayainya? Karena kita bangsa yang beragama melarang itu…….saya heran, sebenarnya apa yang kurang dari bangsa ini? harta alam berlimpah, iklim produktif, jumlah penduduk sangat banyak,yang berarti banyak potensi, bukan mencari alasan dengan mengatakan “banyak yang harus dikasih makan”, moral? sebegitu parahkah moral kita? apakah orang zionis sana lebih baik moralnya dari kita?

Faktor yang melatarbelakangi semua teragedi bangsa berasal dari kita, bukan siapa-siapa. Kita lemah dalam pemahaman kebangsaan dan nasionalisme…. Bagi kita semua atau sebagian bangsa melapalkan arti kebangsaan dan nasionalisme lebih penting ketimbang mengartikulasikannya dalam tindakan dan perbuatan, maka tidak heran banyak pemimpin yang mengembar – gemborkan semboyan kebangsaan dan nasionalisme semata tanpa diiringi tindakan dan contoh yang nyata…

Gegap gempita kemeriahan perayaan kemerdekaan yang selama ini dirayakan sebagai simbol kemenangan terasa hambar, ketika melihat keadaan riil bangsa yang sangat menyedihkan dan menghawatirkan. Sungguh sebuah kenyataan yang sangat sukar diterima oleh akal sehat.

Hidup bangsa ini terobang ambing oleh ombak kekacauan dalam politik,ekonomi, budaya, social dan yang lebih parah lagi dalam kebangsaan dan nasionalisme…. Sungguh sebuah kenyataan yang sangat sukar di mengerti. Banyak alasan menjawab kenyataan ini, kita masih dalam era reformasi yang masih membutuhkan waktu untuk perbaikan, ya…. Reformasi disalahkan, masa lalu lagi di perdebatkan…… dagelan konyol terus terjadi di panggung bangsa ini…… kenapa ? Seharusnya kita sadar bahwa masa lalu itu nihil, ia tak akan kembali dan tak akan mungkin dapat dirubah...... jadi kenapa harus terus berkutat di masa lalu? Tataplah hari ini dan saat ini juga karena hanya hari ini yang sedang kita jalani bukan masa lalu atau masa depan....anggaplah masa lalu sejarah, masa kini kenyataan dan masa depan harapan.

Integritas bangsa yang terus menyusut menjadi salah satu lingkaran setan yang terus berulang, kenapa kita tidak bisa berfikir diluar “kotak”? Kenapa masyarakat bangsa ini menjadi begitu fesimistis dalam menatap hari depan? Kenapa selalu melihat masa lalu?

Jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin makin terlihat jelas seolah tak ada arsitek handal yang mampu membuat jembatan penghubungnya, dramatis kisah hidup bangsa ini, dijajah 350 tahun, kini dijajah oleh prilaku bangsa yang tak karuan, yang entah sampai kapan akan berakhir…

Kekuasaaan selalu jadi rebuatan para petinggi bangsa, kenapa mereka tidak berebutan untuk menyembuhkan luka bangsa ini, kenapa semua hanya mengambil untuk keuntungan sendiri dan golongan?

Legitimasi hukum yang selama ini berjalan pun terasa bagai sebuah alam antah berantah yang sangat tidak beretika dan bermoral, selalu dan selalu saja dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan jahiliah seperti uang, koneksi dan jabatan. Bagaimana mungkin sebuah bangsa akan besar, jika tidak dilandasi oleh kekuatan hukum yang benar-benar berpegang teguh pada keadilan dan kebenaran semata.

Momentum demi momentum terlewatkan oleh bangsa ini, bagaimana mungkin kita bisa tidak sekreatif ini? Semua unsur sudah sangat salah kaprah, masyarakat dijelali terus dengan tontonan – tontonan kehidupan glamour yang konsumtif, kenapa logika bangsa ini tidak dibalik? Kenapa tidak melangsungkan perlombaan teknologi dengan konsep gegap gempita seperti yang selama ini dilakukan dalam dunia hiburan seperti “indonesian idol, AFI, KDI dan semua jenis hiburan yang melenakan dan sedikit (jika tidak mau dikatakan tidak ada sama sekali) unsur pendidikannya, sehingga para generasi muda merasa tertantang dan dihargai ?

Orientasi atau tujuan bangsa ini, sebenarnya sudah sangat jelas tersusun dalam Pancasila, yang dicanangkan oleh para leluhur bangsa... tugas kita hanya menjalankannya, tidak lebih, tidak perlu kita mengotak – atiknya karena semua yang ada dalam Pancasil sampai hari kiamat pun akan tetap relevan seiring dengan perubahan jaman, karena dia sifatnya dinamis tidak statis....

Akhirnya sebuah puisi terucap.....

Nusantara raya mengapa kau terus terbelenggu, bukankah sudah lebih dari 62 tahun dikau merdeka?
Nusantara raya mengapa kau terus menangis meski usiamu tidak muda lagi?
Bukankah hanya anak kecil yang selalu menangis?
Sementara engkau sudah dewasa, tidak malukah engkau?
Nusantara raya kebanggaanku, bisakah kau sejenak merenungkan kelahiranmu? Nusantara raya, aku ingin sekali mendengar senandung lagu kejayaanmu dikumandangkan diseluruh jagat raya ini?
Bukan lagu sendu yang berkisah tentang kebobrokan pemerintahanmu, kemiskinan yang menjeratmu, bencana yang melandamu dan kemunafikan yang menjelma menjadi kloningmu?
Nusantara raya cintaku, belahan jiwaku, aku merindukan dan memimpikan saat – saat dimana kita bisa bercengkrama dan tertawa lepas, tanpa ada sedikitpun beban tercermin dimata kita…..

Tidak ada komentar: